KARAWANG,- Bak jamur di musim penghujan, jumlah pengemis dan gelandangan menjamur menjelang perayaan hari raya Idul Fitri. Mereka banyak bermunculan mengais rezeki di jalanan perkotaan, di pusat perbelanjaan, di masjid dan emperan toko. Warga Karawang saat ini sedang disuguhi fakta tentang kesenjangan dan kegagalan pemerintah memberantas kemiskinan.
Salah satu potret kemiskinan yang tersaji, datang dari sosok Minah (45). Saat ditemui, Minah sedang memungut botol dan gelas plastik di Jalan Raya Telukjambe, Minggu sore, 23 Maret 2025. Tangan kanannya memegang batang besi melengkung seperti kail, sedang tangan kanannya menahan karung yang dipikul dipundaknya. Minah mengaku hidup sebatangkara, tidak punya tempat tinggal dan tidak punya sanak saudara. Hidupnya bergantung di jalanan, dan memulung sudah menjadi aktifitas kesehariannya. Tempat tinggalnya yaitu emperan toko atau pos keamanan lingkungan.
Tak jauh dari Minah, ada seorang wanita pengemis yang nampak lelah dengan kehidupannya, dan marah dengan keadaan yang menimpanya. Emosinya sedikit meluap saat ditanya kenapa jadi pengemis. Wanita itu ditemani anak laki-lagi berusia belasan tahun.
“Kalau dibilang kerjaan, ya memang kerjaan saya begini tiap harinya sih (mengemis), tapi saya mikirnya pekerjaan, ya terpaksa daripada saya mati kelaparan," sebut wanita usia sekitar 50 tahun yang enggan meyebutkan namanya.
Di Jalan Tuparev, seorang lelaki tua sedang berjalan pelan sambil menengadahkan tangannya kepada setiap orang yang ditemuinya. Pria usia 50 tahunnan itu sedikit terbelalak ketika ditanya alasan dirinya mengemis.
“Ngemis ya kerjaan saya dek gitu, keliling-keliling, habis mau kerja yang lain juga nggak ada yang nerima, karena mungkin kurang percayalah, karena keseharian saya bekas mengemis jadi sulit diterima di kerjaan lain," katanya dengan suara yang pelan.
Potret lainnya muncul dari sosok Abah, seorang pria lanjut usia yang hidup mengandalkan belas kasih orang lain. Punggungnya tidak lagi tegap karena faktor usia. Gaya berjalan Abah membungkuk, tangan kirinya memegang tongkat sedang tangan kanannya memegang plastik bekas bungkus makanan ringan yang dijadikan wadah menampung uang pemberian orang lain. Kepalanya mengenakan peci. Abah mengaku terbiasa makan dua kali sehari, karena uang yang didapat dari mengemis harus dibagi untuk istrinya di rumah. Abah mengaku tinggal di Jatirasa, di sebuah gubuk yang dibangun diatas tanah milik PT KAI.
Sekretaris Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Karawang, Mahardika merupakan sosok yang berhasil menangkap potret kemiskinan Minah, Abah dan dua pengemis lainnya. Dirinya sengaja melakukan observasi dengan metode wawancara dengan para pengemis, gelandangan, pemulung dan kaum masjinal lainnya. Dari sepuluh orang yang ditemui, Dhika mengungkap jika semuanya memiliki karakteristik kaum marjinal.
"Sepuluh orang yang saya temui, semuanya sangat miskin, kurang pendidikan, tidak memiliki keterampilan, tidak memiliki tempat tinggal, bahkan penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan hidupnya. Lebih miris lagi, mereka belum merasakan kehadiran pemerintah, yang membantu keluar dari jurang kemiskinan," sebut Dhika.
Dhika berkomentar, banyaknya warga yang terkungkung kemiskinan menandakan pemerintah tidak serius menangani kemiskinan. Banyaknya gelandangan dan pengemis serta manusia gerobak menjadi bukti nyata jika selama ini peran pemerintah kurang dirasakan manfaatnya. Organisasi Perangkat Daerah seperti Satpol PP dan Dinas Sosial kurang inovatif dalam menyelenggarakan roda pemerintah. Dhika juga mempertanyakan, berapa banyak alokasi anggaran yang digunakan pemerintah dalam program pengentasan kemiskinan. Lalu, seperti apa hasilnya selama menjalankan program pengentasan kemiskinan itu.
"Aparatur pemerintahan sangat banyak, dan bisa digunakan untuk menyisir warga miskin lalu membantu mereka keluar dari jurang kemiskinan. Atau program pengentasan kemskinan hanya progran seremoni belaka, hanya cukup dengan diresmikannya Rumah Singgah," katanya.
Dhika berpandangan, isu kemiskinan, gelandangan dan pengemis sepertinya bukan menjadi isu serius. Berdasarkan hasil diskusi dengan beberapa gelandangan dan pengemis yang ditemuinya, bahwa tindakan penanganan yang dilakukan Satpol PP dan Dinas Sosial hanya sebatas pendataan tanpa ada program lanjutan. Dijaring, didata, sudah tidak ada program lanjutan, sebut Dhika.
"Sebab tidak ada langkah pembinaan yang jelas dan tentunya itu menjadi suatu kebingungan yang dirasa gelandangan dan pengemis itu sendiri. Sebab mereka tidak diberikan solusi yang jelas. ini menjadi tugas pemerintah untuk merumuskan bagaimana langkah kongkret dalam penanganan gelandangan dan pengemis," katanya.
Dinas Sosial dipandang kurang inovatif dalam merumuskan formulasi penanganan gelandangan dan pengemis agar tidak menjadi ambiguitas terhadap pemerintah. Dhika berharap pemerintah agar merumuskan formulasi penanganan gelandangan dan pengemis sehingga tidsk hanya sebatas pendataan tetapi juga pembinaan seperti pendidikan non formal agar mereka dapat memiliki modal yang jelas untuk keluar dari jeratan kemiskinan.
"Bila diperlukan dalam perumusan penanganan gelandangan dan pengemis, kami mahasiswa sangat siap untuk dilibatkan. Kami juga berharap dinas terkait jangan menutup diri untuk menerima gagassn mahasiswa," pungkas Dhika. (Teguh Purwahandaka)
Seorang mahasiswa dari organisasi PMII melakukan observasi dengan metode wawancara dengan para pemulung, pengemis dan gelandangan. Di bulan Ramadhan, kaum marjinal memperlihatkan jumlahnya yang cukup banyak, pertanda pemerintah belum berhasil mengentaskan kemiskinan.